WhatsApp Icon

Duo Tokoh Pelopor Filantropi Islam Indonesia : Refleksi Hari Pahlawan Nasional

13/11/2024  |  Penulis: Red/Humas

Bagikan:URL telah tercopy
Duo Tokoh Pelopor Filantropi Islam Indonesia : Refleksi Hari Pahlawan Nasional

Dua tokoh besar Indonesia KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari

Oleh : Muhammad Roissudin.

Wakil Ketua I BAZNAS Kab. Nganjuk

Peringatan Hari Pahlawan Nasional bukan sekadar seremonial yang setiap tahun di gelar, tetapi menjadi momentum penting mengenang kontribusi besar para pahlawan bangsa dan Foundating father dalam menyongsong kemerdekaan Indonesia.

Agar generasi penerus tidak abai terhadap tujuan dan cita-cita pendiri bangsa, tetapi menjadikan Inspirasi yang menghasilkan karya Produktif bagi pembangunan dan peradaban Bangsa.

Dalam konteks ini, dua tokoh besar Indonesia KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari merupakan pahlawan pergerakan Nasional yang berperan besar membangun peradaban Indonesia.

Ia tidak semata berjuang dalam bidang agama, tetapi juga dalam aspek sosial budaya dan Pendidikan melalui gerakan filantropi yang efektif hingga sekarang.

Keduanya menjadi pilar utama berperan aktif membangin peradaban Indonesia hingga berdampak besar bagi kemajuan bangsa, baik melalui pendidikan, sosial, maupun dakwah.

Duo tokoh besar " bersaudara " satu Guru ini mampu melahirkan para tokoh Bangsa dan Ulama serta mengantarkan jutaan Generasi Unggul yang akan melanjutkan Visi besar Indonesia.

KH Ahmad Dahlan dan Teologi Al-Ma’un: Gerakan Filantropi mustad'afiin.

KH Ahmad Dahlan adalah pendiri Muhammadiyah pada tahun 1912, organisasi Islam yang hingga kini terus berkembang pesat. Salah satu warisan terbesar dari Dahlan adalah konsep Teologi Al-Ma’un, Ia yang memotivasi umat Islam untuk peduli terhadap sesama melalui tindakan nyata. Gerakan ini menginspirasi berdirinya berbagai lembaga sosial yang ditujukan untuk pemberdayaan masyarakat miskin, anak yatim, dan mereka yang berada dalam kesulitan ekonomi.

Melalui Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan menekankan pentingnya pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan sosial sebagai upaya konkret dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Konsep Teologi Al-Ma’un ini mendorong terbentuknya ribuan amal usaha (AUM) yang hingga kini terus berkembang.

Berdasarkan data Litbang PP Muhammadiyah hingga September 2023, sejumlah besar Amal Usaha Muhammadiyah telah terbentuk di seluruh Indonesia:

1. Perguruan Tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah (PTMA): 172 unit, terdiri dari 83 universitas, 53 sekolah tinggi, dan 36 bentuk lainnya.

2. Rumah Sakit Muhammadiyah: 122 unit (ditambah dengan 20 rumah sakit dalam proses pembangunan).

3. Klinik Kesehatan: 231 unit.

4. Sekolah/Madrasah: 5.345 unit.

5. Aset Wakaf: 20.465 lokasi dengan luas tanah mencapai 214.742.677 m².

6. Amal Usaha Sosial (MCC/LKSA): 1.012 unit.

7. Pesantren Muhammadiyah: 440 unit.

8. Misi Kemanusiaan Internasional: Termasuk Palestina, Rohingya (Myanmar), Filipina, Pakistan, dan negara-negara terdampak bencana seperti Turki, Nepal, Sudan, dan lainnya.

Kontribusi besar ini menunjukkan betapa dahsyatnya pengaruh Instrumen Filantropi yang diwariskan oleh KH Ahmad Dahlan dalam membangun jaringan sosial yang peduli terhadap kemanusiaan slama berbagai aspek.

Hal ini tidak hanya mencakup aspek pendidikan, tetapi juga pemberdayaan masyarakat miskin yang menjadi pokok ajaran dalam 'Teologi Al-Ma’un'.

KH Hasyim Asy’ari dan Teologi Al-Balad: Gerakan Pesantren.

KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU) tahun 1926 memfokuskan perjuangannya melalui jalur pesantren.

Prof.Dr Noer Achmad Ketua Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS ) RI menjelaskan Gerakan Pesantren yang fi gagas oleh Kyai Hasyim Asy ari merupakan Implementasi dari pengalaman surat Al balad ayat ke 13-16.

Yang dikenal Istilah Pendekatan Teologi Al-Balad.

Dalam prakteknya, KH Hasyim Asy’ari menekankan pentingnya membebaskan masyarakat dari kemiskinan, kebodohan, dan perbudakan melalui pendidikan agama dan sosial dimulai dari gerakan Pesantren.

Teologi Al-Balad ini tidak hanya mengajak untuk memberi makan orang miskin, merawat anak yatim, dan membebaskan perbudakan, tetapi juga menanamkan pentingnya pendidikan berbasis Islam yang moderat dan inklusif.

Melalui NU, KH Hasyim Asy'ari meletakkan dasar pendidikan Islam yang berbasis Ahlussunnah Wal Jamaah dengan tujuan mempersiapkan SDM yang tidak hanya paham agama, tetapi juga siap menghadapi tantangan zaman. Ini dapat dilihat dari perkembangan ribuan pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia, yang tidak hanya mengajarkan ilmu agama tetapi juga mengedepankan nilai-nilai sosial yang mengarah pada pemberdayaan masyarakat.

Dengan kiprahnya panjang Kyai Hasyim telah melahirkan puluhan ribu Pondok Pesantren.

Menurut data Kementerian Agama (2022), jumlah pondok pesantren di Indonesia mencapai 26.975 pesantren, dengan 13.477 pesantren di antaranya beraliran Nahdlatul Ulama (NU). Ini menunjukkan betapa besar pengaruh NU dalam membentuk karakter masyarakat melalui pendidikan pesantren berbasis Ahlussunnah Wal Jamaah.

Pendekatan Filantropi dalam Tradisi NU dan Muhammadiyah.

Secara sosiologis, baik KH Ahmad Dahlan dengan 'Teologi Al-Ma’un' maupun KH Hasyim Asy’ari dengan 'Teologi Al-Balad' keduanya telah menciptakan gerakan sosial yang mendalam, yang berfungsi sebagai respons terhadap masalah sosial seperti kemiskinan, kebodohan, dan ketidakadilan. Gerakan filantropi yang mereka gagas tidak hanya berfokus pada pemberian bantuan material, tetapi lebih kepada pembentukan struktur sosial yang berkelanjutan dan inklusif.

Menurut Prof. Azumardi Azra, seorang sosiolog Islam Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, gerakan ini menunjukkan betapa Islam dapat berfungsi sebagai kekuatan sosial yang membangun dan memperbaiki masyarakat.

Bagi Azra, keduanya adalah contoh konkret bagaimana agama dan filantropi dapat bersanding berkolaborasi untuk menciptakan perubahan sosial yang positif. Gerakan filantropi mereka mengedepankan pemberdayaan kaum miskin dan marginal, serta membangun jaringan sosial yang dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara holistik.

Nurhokis Majid, dalam perspektifnya, menganggap gerakan filantropi berbasis pesantren yang dipelopori oleh KH Hasyim Asy’ari sebagai model yang sangat relevan dengan kondisi masyarakat Indonesia. Pesantren NU tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai pusat pemberdayaan masyarakat yang menjaga nilai-nilai moderasi Islam serta kesatuan sosial.

Gerakan 'Teologi Al-Balad' yang diusung NU, menurut Majid, adalah upaya untuk membebaskan masyarakat dari segala bentuk ketertinggalan, baik dalam aspek spiritual maupun material.

Kedua tokoh besar ini, KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy'ari, memiliki record panjang bahwa filantropi Islam melalui Bidang Dakwah Sosial tidak sekadar memberikan bantuan konsumtif kepada yang membutuhkan.

Tetapi telah membangun dua tradisi besar dalam dunia Islam yakni Pendidikan Formal dan berbasis Pesantren dan Tradisi Pesantren secara kultur.

Pada Konteks Indonesia, dua gerakan sosial ini mampu membangkitkan kemajuan bidang bidang pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi yang berbasis pada prinsip ajaran Islam rahmatan lil-‘alamin.

Melalui berbagai amal usaha mereka, baik Muhammadiyah maupun NU telah berhasil menciptakan jaringan sosial yang kokoh dan terus berkembang, memberi harapan bagi masyarakat Indonesia untuk terus maju dan berkembang.

Gerakan filantropi yang mereka inisiasi tidak hanya berkontribusi dalam membangun peradaban Indonesia, tetapi juga menjadi contoh konkret dari bagaimana agama, pendidikan, dan sosial dapat bekerja bersama untuk mencapai tujuan kesejahteraan yang lebih besar. Dalam konteks ini, keduanya—dengan pendekatan yang sedikit berbeda tetapi tetap berfokus pada pemberdayaan umat—telah menunjukkan jalan untuk masa depan yang lebih baik bagi bangsa Indonesia. (*)

Bagikan:URL telah tercopy

Berita Lainnya

Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Mari tunaikan zakat Anda dengan mentransfer ke rekening zakat.

BAZNAS

Info Rekening Zakat